Sabtu, 30 November 2019

An-Nazi'at 79:33

An-Nazi'at 79:33
Topik Yang Terkait Ayat Ini
[Cattle] [Provision]

Indonesian - Bahasa
(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.

Indonesian - Tafsir Jalalayn
(Untuk kesenangan) lafal Mataa'an berkedudukan menjadi Maf'ul Lah bagi lafal yang tidak disebutkan, lengkapnya, Dia melakukan hal tersebut untuk kesenangan. Atau lafal Mataa'an ini dianggap sebagai Mashdar, artinya memberikan kesenangan (buat kalian dan buat binatang-binatang ternak kalian) lafal An'aam ini adalah jamak dari lafal Na'amun artinya binatang ternak mencakup unta, sapi, dan kambing.

Indonesian - Tafsir Kemenag RI
(33) Semuanya itu untuk kesenangan manusia dan hewan-hewan ternaknya. Dengan demikian, manusia dan hewan-hewan itu dapat hidup dengan tenang dan mencari rezeki dengan melakukan berbagai kegiatan. Hal ini juga dijelaskan dalam firman Allah yang lain: Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu. (an-Nahl/16: 10) Setelah mempelajari kandungan ayat-ayat tersebut yang ditujukan untuk meyakinkan tentang adanya hari kebangkitan, maka sepatutnya menjadi bahan renungan bahwa Tuhan yang telah menciptakan manusia dan menciptakan apa-apa yang diperlukan untuk kehidupannya, yang telah mengangkat langit di atas dan menghamparkan bumi di bawah, tidakkah berkuasa untuk membangkitkan manusia kembali pada hari Kiamat? Pantaskah Allah membiarkan manusia melakukan perbuatan yang sia-sia setelah menyiapkan sarana bagi mereka dan menghimpun kebaikan-kebaikan yang melimpah ruah itu untuk mereka?

Indonesian - Tafsir ibn Kathir
Dan mengenai firman Allah Swt:

Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh. (An-Nazi'at: 32)

Yakni menetapkannya, mengokohkannya, dan meneguhkannya di tempatnya masing-masing; dan Dia Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui, lagi maha Pengasih kepada makhluk-Nya dan Maha Penyayang.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Al-Awam ibnu Hausyab, dari Sulaiman ibnu Abu Sulaiman, dari Anas ibnu Malik, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Ketika Allah menciptakan bumi maka bumi berguncang, lalu Allah menciptakan gunung-gunung dan menempatkannya di atas bumi, maka bumi menjadi tenang. Para malaikat merasa kagum dengan penciptaan gunung-gunung itu, lalu berkata, "Wahai Tuhan kami, apakah ada sesuatu dari makhluk-Mu yang lebih kuat daripada gunung-gunung ini?” Allah Swt. menjawab, "Ya, ada, yaitu besi.” Para malaikat bertanya "Wahai Tuhan kami, apakah ada sesuatu dari makhluk-Mu yang lebih kuat daripada besi?" Allah menjawab, "Ya, api.” Para malaikat bertanya, "Wahai Tuhan kami, apakah ada sesuatu dari makhluk-Mu yang lebih kuat dari api?" Allah menjawab,   "Ya, air.” Para malaikat bertanya, "Wahai Tuhan kami, apakah ada sesuatu dari makhluk-Mu yang lebih kuat daripada air?” Allah menjawab, "Ya, angin." Para malaikat bertanya, "Apakah ada sesuatu yang lebih kuat daripada angin di antara makhluk-Mu, wahai Tuhan kami?” Allah menjawab "Ya. anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya, lalu ia menyembunyikan dari tangan kirinya.”

Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Ata, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami, dari Ali yang mengatakan bahwa ketika Allah menciptakan bumi, maka bumi berguncang dan berkata, "Engkau akan menciptakan Adam dan keturunannya di atas permukaanku; mereka akan melemparkan kepadaku kekotorannya dan menyegerakan aku dalam melakukan perbuatan-perbuatan dosa." Maka Allah memantapkannya dengan gunung-gunung; maka di antaranya ada yang dapat kamu lihat, dan di antaranya lagi ada gunung-gunung yang tidak dapat kamu lihat. Dan permulaan tenangnya bumi adalah seperti daging unta yang telah disembelih, maka dagingnya kelihatan bergetar, kemudian diam. Tetapi asar ini garib sekali.

Firman Allah Swt.:

(semua itu) untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternak kalian. (An-Nazi'at: 33)

Yaitu penghamparan bumi, mata air-mata airnya yang dikeluarkan, semua sumber dayanya dikeluarkan darinya, sungai-sungainya dialirkan, tanam-tanaman, dan pepohonannya ditumbuhkan dan dikukuhkan dengan gunung-gunung agar bumi menjadi teguh dan tetap, tidak mengguncangkan makhluk yang ada di atasnya; semuanya itu sebagai kesenangan bagi manusia dan semua keperluan mereka dari hewan ternak yang mereka makan dagingnya dan mereka jadikan sebagai kendaraan selama diperlukan oleh mereka di dunia ini, sampai masa yang tertentu.

Dapatkan Aplikasi Quran:bit.ly/AlQuranApp

#GreentechApps

Jumat, 29 November 2019

Yunus 10:93

Yunus 10:93
Topik Yang Terkait Ayat Ini
[Commandments] [Difference] [Knowledge] [Moses] [Resurrection]

Indonesian - Bahasa
Dan sungguh, Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rezeki yang baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Tuhan kamu akan memberi keputusan antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu.

Indonesian - Tafsir Jalalayn
(Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan) memberikan tempat (Bani Israel di tempat kediaman yang bagus) tempat yang terhormat, yaitu negeri Syam dan negeri Mesir (dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih) sekalipun sebagian di antara mereka beriman dan sebagian yang lain kafir (kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan, yang tersebut dalam Taurat. Sesungguhnya Rabb kamu akan memutuskan antara mereka di hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu) dalam masalah agama, yaitu dengan menyelamatkan orang-orang beriman dan mengazab orang-orang kafir.

Indonesian - Tafsir Kemenag RI
(93) Sesudah Allah mengakhiri kisah Firaun, maka pada ayat ini, Allah menyebutkan riwayat Bani Israil, setibanya mereka pada tempat yang dijanjikan Tuhan. Allah telah menempatkan mereka di negeri yang indah yaitu negeri Palestina. Sebagaimana diterangkan pula dalam ayat yang lain firman Allah: Dan Kami wariskan kepada kaum yang tertindas itu bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi. (al-Araf/7: 137) Allah melimpahkan rezeki yang baik dan bermacam-macam, seperti peternakan, perkebunan, pertanian, dan perikanan di daratan, seperti Laut Mati, dan di lautan kepada Bani Israil. Mereka hidup rukun dan damai penuh bahagia di negeri yang baru itu. Tetapi kemudian timbul perselisihan yang besar di kalangan mereka sesudah mereka mempelajari kitab Taurat dan hukum-hukum-Nya. Sebenarnya tidak wajar mereka itu berselisih paham sebab Allah telah cukup jelas menerangkan kepada mereka syariat-Nya. Jika timbul perselisihan maka hal itu disebabkan faktor pribadi dan kepentingan golongan di antara mereka. Firman Allah: Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab, kecuali setelah mereka memperolah ilmu, karena kedengkian di antara mereka. (ali Imran/3: 19) Kedengkian dan kebencian terhadap golongan lain, ambisi pribadi, bermegah-megah dan kepentingan golongan serta faktor-faktor subyektif sangat mempengaruhi orang-orang Yahudi dalam mempelajari Kitab Suci. Mereka tidak segan memutarbalikkan pengertian ayat dari arti yang sebenarnya. Firman Allah: (Yaitu) di antara orang Yahudi, yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. (an-Nisa/4: 46)

Indonesian - Tafsir ibn Kathir
Allah Swt. menceritakan perihal nikmat-Nya yang telah Dia limpahkan kepada kaum Bani Israil, yaitu nikmat agama dan duniawi. Firman Allah Swt. yang mengatakan:

...di tempat kediaman yang bagus

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud ialah kota-kota di negeri Mesir dan negeri Syam yang terletak di sekitar Baitul Maqdis dan kawasan sekelilingnya. Karena sesungguhnya Allah Swt. setelah membinasakan Fir'aun dan bala tentaranya, maka kekuasaan negeri-negeri Mesir seluruhnya berada di tangan Nabi Musa, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu negeri-negeri bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka. (Al A'raf:137)

Maka Kami keluarkan Fir’aun dan kaum-kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. (Asy Syu'ara:57-59)

Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan. (Ad Dukhaan:25), hingga beberapa ayat berikutnya

Akan tetapi, mereka bersama Musa a.s. terus berjalan mencari Baitul Muqaddas yang merupakan negeri Nabi Ibrahim Al-Khalil a.s. Mereka terus mengikuti Nabi Musa yang mencari Baitul Maqdis yang saat itu telah diduduki oleh suatu kaum dari bangsa 'Amaliqah.

Bani Israil surut mundur, tidak mau berperang melawan mereka. Maka Allah menyesatkan kaum Bani Israil di Padang Tih selama empat puluh tahun. Dalam masa itu Harun meninggal dunia, kemudian disusul oleh Nabi Musa a.s.

Setelah keduanya wafat, mereka berhasil keluar dari Padang Tih itu bersama Yusya' ibnu Nun. dan Allah membukakan bagi mereka Baitul Muqaddas. Sejak saat itu kekuasaan Baitul Muqaddas berada di tangan mereka sampai direbut oleh Bukhtansar selama beberapa masa, tetapi pada akhirnya dapat direbut kembali oleh Bani Israil.

Sesudah itu negeri Baitul Muqaddas direbut oleh raja-raja Yunani, dan mereka menguasainya dalam kurun waktu yang cukup lama. Di masa itulah Allah Swt. mengutus Nabi Isa ibnu Maryam a.s. Maka orang-orang Yahudi —semoga Allah melaknat mereka— meminta bantuan kepada raja-raja Yunani itu untuk memusuhi Isa a.s., saat itu orang-orang Yahudi berada di bawah kekuasaan mereka.

Orang-orang Yahudi melancarkan hasutannya terhadap Isa a.s. di hadapan raja-raja Yunani dan mengatakan kepada mereka bahwa Isa telah mengadakan pergerakan yang membuat rakyat kerajaan menjadi rusak. Maka raja-raja Yunani mengirimkan orang-orangnya untuk menangkap Isa a.s.

Lalu Allah Swt. mengangkat Isa kepada-Nya dan menyerupakan salah seorang dari kaum Hawariyin dengannya di mata mereka atas kehendak dan kekuasaan Allah Swt. Kemudian mereka menangkap orang yang serupa dengan Isa itu dan menyalibnya, mereka menduga bahwa dia adalah Isa.

mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa, tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (An-Nisa:157-158)

Tiga ratus tahun kemudian sesudah Isa a.s. masuklah Konstantin, salah seorang raja Yunani, ke dalam agama Nasrani. Dia adalah seorang filosof sebelum itu. Menurut suatu pendapat, ia masuk ke dalam agama Nasrani karena taqiyyah (diplomasi): dan menurut pendapat yang lainnya lagi sebagai tipu muslihat untuk merusak agama dari dalam.

Maka para uskup dari kalangan mereka membuat undang-undang dan syariat-syariat dalam agama Nasrani untuknya yang mereka buat-buat dan ada-adakan sendiri. Dan Raja Konstantin membuatkan untuk mereka gereja-gereja, biara-biara yang besar dan yang kecil, serta patung-patung dan tempat-tempat peribadatan Nasrani. Di masa itu agama Nasrani mengalami kemajuan yang pesat, dan terkenal dengan adanya penggantian, perubahan, penyimpangan yang banyak, serta kedustaan sehingga bertentangan dengan agama Al-Masih yang asli.

Tiada seorang pun dari kalangan Bani Israil yang bertahan pada agama Al-Masih yang asli, kecuali sedikit orang dari kalangan para rahib yang memencilkan dirinya di padang sahara dan tempat-tempat yang jauh dari keramaian dengan rumah-rumah peribadatan mereka.

Agama Nasrani menguasai negeri Syam, sebagian dari Jazirah Arab, dan negeri-negeri Romawi. Raja Konstantin membangun sebuah kota besar yang diberi nama Konstantinopel, lalu Qumamah, Bait Lahm, dan berbagai gereja di Baitul Maqdis dan kota-kota di Hauran. seperti kota Basra dan lain-lainnya, bangunan-bangunan yang didirikannya itu cukup megah dan kuat. Sejak saat itulah salib mulai disembah, dan mereka sembahyang dengan menghadap ke arah timur, lalu mereka menggambar semua gereja, menghalalkan daging babi, dan lain-lainnya yang mereka buat-buat dalam agama mereka, baik yang menyangkut masalah cabang maupun pokoknya. Mereka juga membuat amanat yang kecil untuk sang raja, lalu mereka menamakannya dengan amanat yang besar dan membuat untuknya banyak undang-undang, keterangan mengenai hal ini cukup panjang.

Kekuasaan mereka masih tetap bercokol di negeri-negeri tersebut hingga negeri-negeri itu berhasil direbut dari tangan mereka oleh para sahabat Nabi Muhammad Saw. Dan kota Baitul Maqdis berhasil ditaklukkan oleh Amirul Mu’minin Umar ibnul Khattab r.a.

Firman Allah Swt.:

Dan kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik.

Yakni rezeki yang halal lagi baik, bermanfaat serta dinilai baik untuk keperluan tubuh dan agama.

Firman Allah Swt.:

Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang Kepada mereka pengetahuan (yang tersebut di dalam Taurat).

Maksudnya, tidaklah mereka berselisih dalam sesuatu masalah melainkan setelah mereka mendapat pengetahuan. Dengan kata lain. sebenarnya mereka tidak usah berselisih pendapat karena Allah telah menjelaskan kepada mereka dan menghapuskan dari mereka semua kekeliruan. Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Bahwa orang-orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan orang-orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan umat ini kelak akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, salah satu golongan darinya masuk surga, sedangkan yang tujuh puluh dua golongan masuk ke dalam neraka. Ditanyakan kepada Rasulullah, siapakah mereka wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Tuntunan yang dijalankan olehku dan sahabat-sahabatku.

Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya meriwayatkannya dengan lafaz yang sama, dan hadis ini terdapat pula di dalam kitab-kitab Sunnah dan kitab-kitab Musnad. Karena itulah Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya Tuhan kamu akan memutuskan antara mereka.

Yakni akan memutuskan peradilan di antara mereka.

...di hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu.

Dapatkan Aplikasi Quran:bit.ly/AlQuranApp

#GreentechApps

Asy-Syarh 94:1

Asy-Syarh 94:1
Indonesian - Bahasa
Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?

Indonesian - Tafsir Jalalayn
(Bukankah Kami telah melapangkan) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir atau menetapkan, yakni Kami telah melapangkan (untukmu) hai Muhammad (dadamu?) dengan kenabian dan lain-lainnya.

Indonesian - Tafsir Kemenag RI
(1) Dalam ayat ini dinyatakan bahwa Allah telah melapangkan dada Nabi Muhammad dan menyelamatkannya dari ketidaktahuan tentang syariat. Nabi juga dirisaukan akibat kebodohan dan keras kepala kaumnya. Mereka tidak mau mengikuti kebenaran, sedang Nabi saw selalu mencari jalan untuk melepaskan mereka dari lembah kebodohan, sehingga ia menemui jalan untuk itu dan menyelamatkan mereka dari kehancuran yang sedang mereka alami. Maksud dari ayat ini adalah Allah telah membersihkan jiwa Nabi saw dari segala macam perasaan cemas, sehingga dia tidak gelisah, susah, dan gusar. Nabi juga dijadikan selalu tenang dan percaya akan pertolongan dan bantuan Allah kepadanya. Nabi juga yakin bahwa Dia yang menugasinya sebagai rasul, sekali-kali tidak akan membantu musuh-musuhnya.

Indonesian - Tafsir ibn Kathir
Firman Allah Swt:

{أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ}

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (Alam Nasyrah: 1)

Yakni Kami telah melapangkan dadamu. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa Kami telah menjadikannya bercahaya dan luas lagi lapang. Semakna dengan apa yang telah disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلامِ

Barang siapa yang Allah menghendaki  akan memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. (Al-An'am: 125)

Dan sebagaimana Allah telah melapangkan dada Rasulullah Saw., demikian pula Allah telah menjadikan syariatnya luas, lapang, toleran, lagi mudah, tiada kesulitan dan tiada beban serta tiada kesempitan padanya.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan firman Allah Swt.: Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (Alam Nasyrah:1) Yakni Allah telah melapangkan dadanya di malam Isra, sebagaimana yang telah disebutkan dahulu melalui riwayat Malik ibnu Sa'sa'ah. Imam Turmuzi telah mengetengahkannya dalam tafsir ayat ini. Dan jika memang hal itu terjadi di malam Isra sebagaimana yang telah disebutkan di dalam riwayat Malik ibnu Sa'sa'ah, maka pada hakikatnya tidaklah bertentangan dengan pendapat di atas. Karena sesungguhnya akibat dari pengaruh yang dilakukan terhadap dada beliau di malam Isra, terjadi pula pengaruh yang sama setelah dilapangkan oleh Allah Swt. secara maknawi. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdur Rahim alias Abu Yahya Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Muhammad ibnu Ubay ibnu Ka'b, telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad ibnu Mu'az, dari Muhammad, dari Ubay ibnu Ka'b, bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling berani menanyakan kepada Rasulullah Saw. tentang berbagai masalah yang tidak ada seorang pun berani menanyakannya kepada beliau Saw. selain dia. Maka Abu Hurairah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang mula-mula engkau Iihat dari urusan kenabian ini?" Rasulullah Saw. Duduk tegak dan menjawab: Sesungguhnya engkau telah menanyakan hal yang berbobot, hai Abu Hurairah! Sesungguhnya ketika usiaku menginjak sepuluh tahun lebih beberapa bulan, aku berada di padang Sahara. Tiba-tiba aku mendengar pembicaraan di atas kepalaku, dan ternyata ada seorang laki-laki yang berbicara kepada laki-laki lainnya, "Apakah orang ini adalah dia?” Maka keduanya datang menyambutku dengan penampilan wajah yang sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya, dan sama sekali belum pernah pula aku melihat arwah seperti itu sebelumnya, dan belum pernah pula aku melihat pakaian yang dikenakannya pernah dikenakan oleh seseorang. Keduanya datang kepadaku dengan jalan kaki, hingga masing-masing dari keduanya memegang kedua lenganku, tetapi anehnya aku tidak merasa sentuhan tangan keduanya. Salah seorang berkata kepada yang lainnya, 'Rebahkanlah dia.' Lalu keduanya merebahkan diriku tanpa paksa dan tanpa sulit. Kemudian salah seorangnya berkata kepada yang lainnya, "Belahlah dadanya, " maka salah seorangnya menurut penglihatanku membelah dadaku tanpa ada darah yang mengalir dan tanpa rasa sakit. Lalu berkata kepada yang membelahku, "Keluarkanlah iri hati dan dengki.” Lalu ia mengeluarkan sesuatu yang bentuknya seperti segumpal darah, kemudian ia membuangnya jauh-jauh. Dan berkata lagi ia kepada orang yang membelahku, "Masukkanlah lemah lembut dan kasih sayang.” Maka tiba-tiba kulihat sesuatu sebesar apa yang baru dikeluarkan, bentuknya mengilap seperti perak (dimasukkan ke dalam dadaku), kemudian ia mengguncangkan jempol kakiku yang sebelah kanan, dan berkata, "Kembalikanlah ke semula dalam keadaan utuh.” Maka setelah itu aku pulang dengan berlari dan terasa dadaku dipenuhi oleh perasaan lembut terhadap anak kecil dan kasih sayang kepada orang dewasa.

Dapatkan Aplikasi Quran:bit.ly/AlQuranApp

#GreentechApps

Kamis, 28 November 2019

Al-Waqi'ah 56:34

Al-Waqi'ah 56:34
Topik Yang Terkait Ayat Ini
[Day] [Judgement] [Man, Companions of Right Hand] [Man, sorted out into three classes]

Indonesian - Bahasa
dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.

Indonesian - Tafsir Jalalayn
(Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk) yang diletakkan di atas dipan-dipan.

Indonesian - Tafsir Kemenag RI
(34-37) Dalam ayat-ayat ini, lebih diperinci kesenangan dan kegembiraan yang dinikmati oleh para penghuni surga tersebut ialah bahwa mereka akan duduk di atas kasur tebal berlapis-lapis, empuk dan halus yang isinya terbuat dari sutra, di atas ranjang kencana yang bertahtakan emas dan permata, dengan diciptakan pasangannya ialah bidadari-bidadari yang cantik jelita dan suci tak pernah haid dan hamil selama-lamanya, yang selalu dalam keadaan perawan sepanjang masa; bidadari-bidadari yang cantik jelita dan lemah gemulai itu berpakaian serba sutra yang halus dan sangat menarik, dengan hiasan gelang, kalung, dan anting-anting yang menambah kecantikannya yang asli, ditambah lagi dengan semerbak harum wanginya yang sangat menggiurkan.

Indonesian - Tafsir ibn Kathir
Firman Allah Swt.:

dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. (Al-Waqi'ah: 34)

Yaitu yang tebal, empuk, lagi lembut.

Imam Nasai dan Abu Isa At-Turmuzi mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Rasyidin ibnu Sa’d, dari Umar ibnul Haris, dari Darij, dari Abul Hais'am, dari Abu Sa'id, dari Nabi Saw. sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. (Al-Waqi'ah: 34) Bahwa ketebalannya sama dengan jarak antara langit dan bumi, dan jarak antara keduanya sama dengan perjalanan lima ratus tahun.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib, kami tidak mengenalnya melainkan hanya melalui Rasyidin ibnu Sa'd.

Sebagian ahlul 'ilmi mengatakan bahwa makna hadis ini menunjukkan tingginya tingkatan-tingkatan kasur-kasur tersebut dan jarak antara dua tingkatan sama dengan jarak antara langit dan bumi. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa sesungguhnya tiada yang mengenal ini, melainkan hanya melalui riwayat Rasyidin ibnu Sa'd; dia adalah seorang dari Mesir yang berpredikat daif. Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Abu Ja'far ibnu Jarir, dari Kuraib, dari Rasyidin dengan sanad yang sama.

Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan pula hadis ini yang keduanya dari Yunus ibnu Abdul A'la, dari Ibnu Wahb. dari Umar ibnul Haris, lalu disebutkan hal yang semisal. Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim, dariNa'im ibnu Hammad, dari Ibnu Wahb, dan Ad-Diya telah mengetengahkannya di dalam Sifatul Jannah melalui hadis Harmalah, dari Ibnu Wahb dengan sanad dan lafaz yang semisal. Imam Ahmad meriwayatkannya dari Hasan, dari Musa, dari Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Darij, lalu disebutkan hal yang semisal.

Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah. dari Juwaibir, dari Abu Sahl alias Kasir ibnu Ziad, dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. (Al-Waqi"ah: 34) Bahwa makna yang dimaksud menggambarkan tentang ketinggian kasur seseorang dari ahli surga yang sama dengan jarak perjalanan delapan puluh tahun.

Dapatkan Aplikasi Quran:bit.ly/AlQuranApp

#GreentechApps

Rabu, 27 November 2019

Al-A'raf 7:172

Al-A'raf 7:172
Topik Yang Terkait Ayat Ini
[Aaron] [Adam]

Indonesian - Bahasa
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Indonesian - Tafsir Jalalayn
(Dan) ingatlah (ketika) sewaktu (Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka) menjadi badal isytimal dari lafal sebelumnya dengan mengulangi huruf jar (yaitu anak cucu mereka) maksudnya Dia mengeluarkan sebagian mereka dari tulang sulbi sebagian lainnya yang berasal dari sulbi Nabi Adam secara turun-temurun, sebagaimana sekarang mereka beranak-pinak mirip dengan jagung di daerah Nu`man sewaktu hari Arafah/musim jagung. Allah menetapkan kepada mereka bukti-bukti yang menunjukkan ketuhanan-Nya serta Dia memberinya akal (dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka) seraya berfirman, ("Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul.) Engkau adalah Tuhan kami (kami menjadi saksi.") yang demikian itu. Kesaksian itu supaya (tidak) jangan (kamu mengatakan) dengan memakai ya dan ta pada dua tempat, yakni orang-orang kafir (di hari kiamat kelak, "Sesungguhnya kami terhadap hal-hal ini) yakni keesaan Tuhan (adalah orang-orang yang lalai.") kami tidak mengetahuinya.

Indonesian - Tafsir Kemenag RI
(172) Dalam ayat ini Allah menerangkan tentang janji yang dibuat pada waktu manusia dilahirkan dari rahim orang tua (ibu) mereka, secara turun temurun, yakni Allah menciptakan manusia atas dasar fitrah. Allah menyuruh roh mereka untuk menyaksikan susunan kejadian diri mereka yang membuktikan keesaan-Nya, keajaiban proses penciptaan dari setetes air mani hingga menjadi manusia bertubuh sempurna, dan mempunyai daya tanggap indra, dengan urat nadi dan sistem urat syaraf yang mengagumkan, dan sebagainya. Berkata Allah kepada roh manusia "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Maka menjawablah roh manusia, "Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami telah menyaksikan." Jawaban ini merupakan pengakuan roh pribadi manusia sejak awal kejadiannya akan adanya Allah Yang Maha Esa, yang tiada Tuhan lain yang patut disembah kecuali Dia. Dengan ayat ini Allah bermaksud untuk menjelaskan kepada manusia, bahwa hakikat kejadian manusia itu didasari atas kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa. Sejak manusia itu dilahirkan dari rahim orang tua mereka, ia sudah menyaksikan tanda-tanda keesaan Allah pada kejadian mereka sendiri, Allah berfirman pada ayat lain: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (ar-Rum/30: 30) Fitrah Allah maksudnya ialah tauhid. Rasulullah bersabda: "Tak seorang pun yang dilahirkan kecuali menurut fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana halnya hewan melahirkan anaknya yang sempurna telinganya, adakah kamu ketahui ada cacat pada anak hewan itu?" (Riwayat al-Bukhari Muslim, dari Abu Hurairah) Rasulullah dalam hadis Qudsi: Berfirman Allah Taala, "Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-Ku cenderung (ke agama tauhid). Kemudian datang kepada mereka setan-setan dan memalingkan mereka dari agama (tauhid) mereka, maka haramlah atas mereka segala sesuatu yang telah Kuhalalkan bagi mereka." (Riwayat al-Bukhari dari Iyadh bin Himar) Penolakan terhadap ajaran Tauhid yang dibawa Nabi itu sebenarnya perbuatan yang berlawanan dengan fitrah manusia dan dengan suara hati nurani mereka. Karena itu tidaklah benar manusia pada hari Kiamat nanti mengajukan alasan bahwa mereka alpa, tak pernah diingatkan untuk mengesakan Allah. Fitrah mereka sendiri dan ajaran Nabi-nabi senantiasa mengingatkan mereka untuk mengesakan Allah dan menaati seruan Rasul serta menjauhkan diri dari syirik.

Indonesian - Tafsir ibn Kathir
Allah Swt. menceritakan bahwa Dia telah mengeluarkan keturunan Bani Adam dari sulbi mereka untuk mengadakan persaksian atas diri mereka bahwa Allah adalah Tuhan dan Pemilik mereka, dan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia. Sebagaimana Allah Swt. menjadikan hal tersebut di dalam fitrah dan pembawaan mereka, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Ar Ruum:30)

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Riwayat lain menyebutkan: dalam keadaan memeluk agama ini (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau searang Majusi, seperti halnya dilahirkan hewan ternak yang utuh, apakah kalian merasakan (melihat) adanya cacat padanya?

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui Iyad ibnu Himar bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

Allah Swt, berfirman, "Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung kepada agama yang hak), kemudian datanglah setan, lalu setan menyesatkan mereka dari agamanya dan mengharamkan kepada mereka apa-apa yang telah Aku halalkan kepada mereka.”

Imam Abu Ja'far ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, telah men­ceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku As-Sirri ibnu Yahya, bahwa At-Hasan ibnu Abul Hasan pernah menceritakan hadis berikut kepada mereka, dari Al-Aswad ibnu Sari’, dari kalangan Bani Sa'd yang menceritakan bahwa ia ikut berperang bersama Rasulullah Saw. sebanyak empat kali. Ia melanjutkan kisahnya, "Lalu kaum (pasukan kaum muslim) membunuh anak-anak sesudah mereka membunuh pasukannya. Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah Saw., maka hal itu terasa berat olehnya, kemudian beliau bersabda, 'Apakah gerangan yang telah terjadi pada kaum sehingga mereka tega membunuh anak-anak?' Maka ada seorang lelaki (dari pasukan kaum muslim) bertanya, 'Bukankah mereka adalah anak-anak orang-orang musyrik, wahai Rasulullah Saw.?' Rasulullah Saw. menjawab melalui sabdanya: Sesungguhnya orang-orang yang terpilih dari kalian pun adalah anak-anak orang-orang musyrik. Ingatlah, sesungguhnya tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan melainkan ia dilahirkan dalam keadaan suci. Ia masih tetap dalam keadaan suci hingga lisannya dapat berbicara, lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi atau orang Nasrani'.” Al-Hasan mengatakan, "Demi Allah, sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman di dalam Kitab-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. hingga akhir ayat"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abu Imran Al-Juni, dari Anas ibnu Malik r.a., dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Dikatakan kepada seseorang dari kalangan ahli neraka pada hari kiamat nanti, "Bagaimanakah pendapatmu. seandainya engkau memiliki segala sesuatu yang ada di bumi, apakah engkau akan menjadikannya sebagai tebusan dirimu (dari neraka)?" Ia menjawab, "Ya." Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya Aku menghendaki dirimu hal yang lebih mudah daripada itu. Sesungguhnya Aku telah mengambil janji darimu ketika kamu masih berada di dalam sulbi Adam, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun, tetapi ternyata kamu menolak selain mempersekutukan Aku."

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Sahih-nya masing-masing melalui hadis Syu'bah dengan sanad yang sama.

Hadis yang lain diketengahkan oleh Imam Ahmad, disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir (yakni Ibnu Hazim), dari Kalsum ibnu Jubair, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengambil janji dari sulbi Adam a.s. di Nu'man tepat pada hari Arafah. Maka Allah mengeluarkan dari sulbinya semua keturunan yang kelak akan dilahirkannya, lalu Allah menyebarkannya di hadapan Adam, kemudian Allah berbicara kepada mereka secara berhadapan,

Bukankah Aku ini Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi)." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap (keesaan Tuhan), atau agar kalian tidak mengatakan..., sampai dengan firman-Nya, "...orang-orang yang sesat dahulu."

Imam Hakim mengetengahkannya di dalam kitab Mustadrak melalui hadis Husain ibnu Muhammad dan lain-lainnya, dari Jarir ibnu Hazim, dari Kalsum ibnu Jubair dengan lafaz yang sama, lalu ia mengatakan bahwa hadis ini sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkan­nya.

Imam Muslim berpegang kepada hadis ini karena ada Kalsum ibnu Jubair, dan ia mengatakan bahwa hadis ini telah diriwayatkan oleh Abdul Waris, dari Kalsum ibnu Jubair, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, lalu ia menilainya mauquf (yakni hanya sampai kepada Ibnu Abbas).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami ayahku (yaitu Hilal), dari Abu Hamzah Ad-Daba'i, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Allah mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbinya seperti semut kecil dalam bentuk air mani.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahi, telah menceritakan kepada kami Damrah ibnu Rabi'ah, telah menceritakan kepada kami Abu Mas'ud, dari Jarir yang menceritakan, "Anak lelaki Dahhak ibnu Muzahim meninggal dunia dalam usia enam hari. Dahhak berkata, 'Hai Jabir, apabila engkau letakkan anakku di dalam liang lahadnya, maka bukalah wajahnya dan lepaskanlah tali bundelannya, karena sesungguhnya anakku ini nanti akan diduduk­kan dan ditanyai.' Maka saya melakukan apa yang dipesankannya itu, Setelah saya selesai mengebumikannya, saya bertanya, 'Semoga Allah merahmatimu, mengapa anakmu ditanyai dan siapakah yang akan menanyainya.' Dahhak menjawab, 'Dia akan ditanyai mengenai perjanjian yang telah diikrarkannya semasa ia masih berada di dalam sulbi Adam.' Saya bertanya, 'Wahai Abul Qasim, apakah isi perjanjian yang telah diikrarkannya semasa ia masih berada di dalam sulbi Adam?' Dahhak menjawab, bahwa telah menceritakan kepadanya Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya Allah mengusap sulbi Adam, lalu mengeluarkan darinya semua manusia yang kelak akan diciptakan-Nya sampai hari kiamat. Kemudian Allah mengambil janji dari mereka, yaitu hendaknyalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Allah Swt. menyatakan pula bahwa Dialah yang akan menjamin rezeki mereka. Setelah itu Allah mengembalikan mereka ke dalam sulbinya. Maka hari kiamat masih belum akan terjadi sebelum dilahirkan orang (terakhir) yang telah melakukan perjanjian pada hari itu. Maka barang siapa dari mereka yang menjumpai perjanjian yang lain (yakni di dunia), lalu ia menunaikannya, niscaya perjanjian yang pertama bermanfaat baginya. Dan barang siapa yang menjumpai perjanjian yang lain, lalu ia tidak mengikrarkannya, maka perjanjiannya yang pertama tidak bermanfaat baginya. Dan barang siapa yang meninggal dunia ketika masih kanak-kanak sebelum menjumpai perjanjian yang lain, maka ia mati dalam keadaan berpegang kepada perjanjian pertama dan dalam keadaan fitrah (suci dari dosa)."

Semua jalur periwayatan ini termasuk bukti yang menguatkan ke-mauquf-annya-hanya sampai kepada Ibnu Abbas.

Hadis yang lain diketengahkan oleh Ibnu Jarir, disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abu Taibah, dari Sufyan ibnu Sa'id, dari Al-Ajlah, dari Ad-Dahhak, dari Mansur, dari Mujahid, dari Abdullah ibnu Amr yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. Lalu beliau Saw. bersabda bahwa Allah mengambil mereka dari sulbinya sebagaimana ketombe diambil dari rambut kepala dengan sisir. Kemu­dian Allah berfirman kepada mereka: "Bukankah aku ini Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami)." Maka para malaikat berkata: Kami ikut bersaksi agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan.”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini."

Ahmad ibnu Taibah ini nama julukannya adalah Abu Muhammad Al-Jurjani kadi Qaumis, dia adalah salah seorang ahlu zuhud, Imam Nasai mengetengahkan hadisnya di dalam kitab Sunnah-nya. Imam Abu Hatim Ar-Razi mengatakan bahwa hadisnya dapat dicatat. Ibnu Addi mengatakan Abu Muhammad Al-Jurjani banyak mengetengahkan hadis-hadis yang garib. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Abdur Rahman ibnu Hamzah ibnu Mahdi, dari Sufyan As-Sauri, dari Mansur, dari Mujahid, dari Abdullah ibnu Amr. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Jarir, dari Mansur dengan sanad yang sama, dan riwayat ini lebih sahih kedudukannya.

Hadis yang lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad, disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Rauh (yaitu Ibnu Ubadah), telah menceritakan kepada kami Malik, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Zaid ibnu Abu Anisah, bahwa Abdul Hamid ibnu Abdur Rahman ibnu Zaid ibnul Khattab pernah menceritakan kepadanya, dari Muslim ibnu Yasar Al-Juhanni, bahwa Umar ibnul Khattab pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhan kalian ?” Mereka menjawab, 'Betul’ (Engkau Tuhan kami)., hingga akhir ayat. Maka Umar ibnul Khattab mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. ditanya mengenai makna ayat ini, beliau Saw. menjawab melalui sabdanya: Sesungguhnya Allah Swt. menciptakan Adam a.s., kemudian mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya, dan mengeluarkan darinya sejumlah keturunannya, Allah berfirman, "Aku telah menciptakan mereka untuk dimasukkan ke dalam surga. dan mereka hanya mengamalkan amalan ahli surga.” Kemudian Allah mengusap punggungnya lagi, lalu mengeluarkan darinya sejumlah keturunannya, dan Allah berfirman, "Aku telah menciptakan mereka untuk neraka dan hanya amalan ahli nerakalah yang mereka kerjakan." Kemudian ada seorang lelaki yang bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang terjadi dengan amal itu? Rasulullah Saw, menjawab: Apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk surga, maka Allah menjadikannya beramal dengan amalan ahli surga, hingga ia mati dalam keadaan mengamalkan amalan ahli surga, lalu Allah memasukkannya ke dalam surga berkat amal itu. Dan apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk neraka, maka Dia menjadikannya beramal dengan amalan ahli neraka, hingga ia mati dalam keadaan mengamalkan amalan ahli neraka, lalu Allah memasukkannya ke neraka.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, dari Al-Qa'nabi, sedangkan Imam Nasai meriwayatkannya dalam kitab Tafsir­nya, dari Qutaibah, dan Imam Turmuzi di dalam kitab Tafsir-nya. meriwayatkannya dari Ishaq ibnu Musa, dari Ma'an. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari Yunus ibnu Abdul A'la dari Ibnu Wahb. Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Rauh ibnu Ubadah dan Sa'id ibnu Abdul Hamid ibnu Ja'far. Ibnu Hibban mengetengahkannya di dalam kitab Sahih-nya. melalui riwayat Abu Mus'ab Az-Zubairi. Semuanya dari Imam Malik ibnu Anas dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan, tetapi Muslim ibnu Yasar belum pernah mendengar dari Umar, hal yang sama telah dikatakan pula oleh Abu Hatim dan Abu Za’rah.

Abu Hatim menambahkan, di antara keduanya —yakni antara Muslim ibnu Yasar dan Umar—terdapat Na'im ibnu Rabi'ah. Perkataan Abu Hatim ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud di dalam kitab Sunnah-nya, dari Muhammad ibnu Musaffa, dari Baqiyyah dari Umar ibnu Ju'sum Al-Qurasyi, dari Zaid ibnu-Abu Anisah, dari Abdul Hamid ibnu Abdur Rahman ibnu Zaid ibnul Khattab, dari Muslim ibnu Yasar Al-Juhami, dari Na'im ibnu Rabi'ah.

Na'im ibnu Rabi'ah mengatakan bahwa ketika ia berada di hadapan Umar ibnul Khattab yang saat itu telah ditanya mengenai makna firman­Nya ini:

Dan (ingadah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka.
Lalu ia mengetengahkan asar ini.

Menurut hemat kami, Imam Malik secara lahiriahnya sengaja meng­gugurkan nama Na'im ibnu Rabi'ah dari rentetan perawi hanyalah semata-mata karena keadaan Na'im tidak diketahui dan dia tidak mengenalnya, mengingat Na'im tidaklah dikenal kecuali melalui hadis ini. Karena itulah Imam Malik sering menggugurkan penyebutan sejumlah perawi yang tidak dikenalnya. Oleh sebab itu pulalah maka ia banyak me-mursal-kan hadis-hadis yang marfu dan me-maqtu-kan banyak hadis yang mausul.

Hadis yang lain diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dalam tafsir ayat ini, bahwa:

telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Sa'd, dari Zaid ibnu Aslam, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Ketika Allah menciptakan Adam, maka Allah mengusap punggung Adam, lalu berguguranlah dari punggungnya semua manusia yang Dia ciptakan dari anak keturunannya sampai hari kiamat. Dan Allqh menjadikan di antara kedua mata setiap manusia dari sebagi­an mereka secercah nur (cahaya), kemudian Allah menampilkannya dihadapan Adam. Maka Adam berkata, "Wahai Tuhanku, siapakah mereka ini?" Allah berfirman, "Mereka adalah anak cucumu.” Adam melihat seorang lelaki dari mereka yang nur di antara kedua matanya mengagumkan Adam. Adam bertanya, "Wahai Tuhanku, siapakah orang ini?” Allah berfirman, "Dia adalah seorang lelaki dari kalangan umat yang akhir nanti dari kalangan keturunanmu, ia dikenal dengan nama Daud.” Adam berkata, "Wahai Tuhanku, berapakah usianya yang telah Engkau tetapkan untuknya “Allah menjawab “Enam Puluh Tahun”. Adam Berkata, "Wahai Tuhanku, saya rela memberikan kepadanya sebagian dari usiaku sebanyak empat puluh tahun.” Ketika usia Adam telah habis, ia kedatangan malaikat maut, maka Adam berkata, "Bukankah usiaku masih empat puluh tahun lagi?” Malaikat maut menjawab.”Bukankah engkau telah berikan kepada anakmu Daud?” Ketika malaikat maut menjawabnya, maka Adam mengingkarinya, sehingga keturunannya pun ingkar pula. Adam lupa, maka keturunannya pun lupa pula. Adam berbuat kekeliruan, maka keturunannya pun berbuat kekeliruan pula.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih. Imam Turmuzi telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. Imam Hakim telah meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak-nya. melalui hadis Abu Na'im Al-Fadl ibnu Dakin dengan sanad yang sama. Ia mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya di dalam kitab Tafsir-nya melalui hadis Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya, bahwa ia menceritakan hadis ini dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Hurairah r .a., dari Rasulullah Saw. Lalu ia menuturkan hadis ini semisal dengan hadis di atas sampai ia menyebutkan:

Kemudian Allah memperlihatkan mereka kepada Adam. dan Allah berfirman “Hai Adam Mereka adalah keturunanmu” Ternyata di antara mereka terdapat orang yang berpenyakit lepra, supak, buta, dan berpenyakit lainnya. Maka Adam berkata, "Wahai Tuhanku, mengapa Engkau lakukan ini terhadap keturunanku?” Allah berfirman, "Agar mereka mensyukuri nikmat-Ku.” Adam bertanya, "Wahai Tuhanku, siapakah mereka yang saya lihat memiliki nur (cahaya) yang paling menonjol di kalangan mereka? Allah berfirman, "Mereka adalah para nabi dari keturunanmu, hai Adam."

Hadis yang lain diriwayatkan oleh Abdur Rahman ibnu Qatadah An-Nadri, dari ayahnya, dari Hisyam ibnu Hakim r.a., bahwa pernah ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi Saw., "Wahai Rasulullah, apakah amal perbuatan itu baru muncul kemudian, ataukah telah ditetapkan oleh takdir sebelumnya?" Rasulullah Saw. bersabda:

Sesungguhnya Allah telah mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka. Kemudian Allah meraup mereka dalam kedua telapak tangan-Nya, lalu berfirman, "Mereka ini adalah ahli surga, dan mereka ini adalah ahli neraka." Maka ahli surga dipermudahkan untuk mengamalkan amalan ahli surga, dan ahli neraka dimudahkan untuk mengamalkan amalan ahli neraka.

Hadis yang lain diriwayatkan oleh Ja'far ibnuz Zubair yang orangnya daif, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

Setelah Allah menciptakan makhluk-Nya dan menetapkan takdir­Nya, maka Dia mengambil golongan kanan dengan tangan kanan-Nya dan golongan kiri dengan tangan kiri-­Nya. Allah berfirman, "Hai golongan kanan! " Mereka menjawab, "Kami penuhi panggilan-Mu dengan penuh kebahagiaan," Allah berfirman, "Bukankah Aku adalah Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Benar, ya Tuhan kami" Allah berfirman, "Hai golongan kiri!" Mereka menjawab, "Kami penuhi panggilan-Mu dengan penuh kebahagiaan.” Allah berfirman, "Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka menjawab, "Benar, ya Tuhan kami.” Kemudian Allah mencampurkan mereka menjadi satu di antara sesama mereka. Maka ada yang bertanya kepada-Nya, "Wahai Tuhanku, mengapa Engkau campur adukkan di antara sesama mereka?” Allah berfirman, "Amal perbuatan mereka datang sesudah itu, dan mereka masing-masing akan mengamalkan amalannya agar mereka nanti kelak di hari kiamat tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini'.” Kemudian Allah mengembalikan mereka ke dalam sulbi Adam.

Hadis riwayat Ibnu Murdawaih.

Asar yang lain diriwayatkan oleh Abu Ja'far Ar-Razi, dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka.
Pada hari itu Allah mengumpulkan seluruh manusia yang akan ada sampai hari kiamat nanti, lalu Allah menjadikan mereka dalam rupanya masing-masing dan membuat mereka dapat berbicara hingga mereka dapat berbicara, kemudian Allah mengambil janji dan ikrar dari mereka: dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami).", hingga akhir ayat. Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku mempersaksikan terhadap kalian tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, dan Aku telah mempersaksikan Adam kakek moyang kalian terhadap kalian, agar kalian kelak di hari kiamat tidak mengatakan, 'Kami tidak mengetahui." Ketahuilah oleh kalian bahwa tidak ada Tuhan selain Aku dan tidak ada Rabb selain Aku, maka janganlah Engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Dan sesungguhnya Aku akan mengutus kepada kalian rasul-rasul untuk memberikan peringatan kepada kalian akan janji dan ikrar-Ku ini, dan Aku akan menurunkan kepada kalian kitab-kitab-Ku." Mereka menjawab, "Kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami dan Rabb kami, tidak ada Rabb dan tidak ada Tuhan selain Engkau." Pada hari itu mereka mengakui bersedia untuk taat, lalu Allah mengangkat kakek moyang mereka, Adam, dan Adam memandang mereka, maka ia melihat bahwa di antara mereka ada yang kaya, ada yang miskin, dan ada yang rupanya baik, ada pula yang tidak. Maka Adam berkata, "Wahai Tuhanku, mengapa tidak Engkau samakan hamba-hamba-Mu itu?" Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku suka bila dipanjatkan rasa syukur kepada Ku. Nabi Adam melihat adanya para nabi di antara mereka yang bagai­kan pelita karena memancarkan nur (cahaya), lalu mereka secara khusus diikat dengan janji lain, yaitu berupa risalah dan kenabian. Hal inilah yang diungkapkan oleh Allah Swt. dalam firman-firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi (Al Ahzab:7), hingga akhir ayat. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah. (Ar Ruum:30) Ini adalah seorang pemberi peringatan di antarapemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. (An Najm:56) Termasuk pula ke dalam pengertian ini firman Allah Swt. yang mengatakan: Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. (Al A'raf:102)

Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa Allah Swt. mengeluarkan keturunan Bani Adam dari sulbinya, lalu Dia memisahkan antara ahli surga dan ahli neraka di antara mereka. Adapun mengenai pengambilan kesaksian yang mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan mereka, maka tiada lain hanya terdapat di dalam hadis Kalsum ibnu Jubair, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, juga dalam hadis Abdullah ibnu Amr. Kami telah menjelaskan bahwa keduanya mauquf, bukan marfu' seperti yang telah disebutkan di atas. Karena itulah ada sebagian ulama Salaf dan ulama Khataf yang mengatakan bahwa persaksian ini tiada lain adalah fitrah mereka yang mengakui keesaan Tuhan, seperti yang disebutkan di dalam hadis Abu Hurairah dan Iyad ibnu Himar Al-Mujasyi'i. Juga seperti yang disebutkan melalui riwayat Al-Hasan Al-Basri, dari Al-Aswad ibnu Sari', dan Al-Hasan menafsirkan ayat ini dengan pengertian tersebut. Mereka mengatakan bahwa karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam.

tidak disebutkan dari Adam.

Dari sulbi mereka.

tidak disebutkan dari sulbinya (Adam).

...anak cucu mereka.

Yakni Allah menjadikan keturunan mereka generasi demi generasi, satu kurun demi satu kurun, sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat-ayat lain, yaitu:

Dia-lah yang menjadikan kalian khalifah-khalifah di muka bumi. (Faathir':39)

dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi. (An Naml:62)

sebagaimana Dia menjadikan kalian dari keturunan orang-orang lain. (Al An'am:133)

Kemudian Allah Swt. berfirman:

Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) "Bukankah Aku ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami)."

Maksudnya, Allah menjadikan mereka menyaksikan hal tersebut secara keadaan dan ucapan. Kesaksian itu adakalanya dilakukan dengan ucapan, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah Swt.:

Mereka berkata, "Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.(Al An'am:130)

Adakalanya pula dilakukan dengan keadaan (yakni dengan sikap dan perbuatan), seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah Swt:

Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. (At Taubah:17)

Artinya, sedangkan keadaan mereka atau sikap dan perbuatan mereka menunjukkan kekafiran mereka, sekalipun mereka tidak mengatakannya. Demikianlah pengertian yang terkandung di dalam firman Allah Swt.:

dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkaran­nya. (Al-'Adiyat: 7)

Demikian pula permintaan, adakalanya dengan ucapan, adakalanya dengan keadaan (sikap dan perbuatan), seperti pengertian yang ter­kandung di dalam firman Allah Swt.:

Dan Dia telah memberikan kepada kalian (keperluan kalian) dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya (Ibrahim:34)

Mereka mengatakan bahwa di antara dalil yang menunjukkan bahwa makna yang dimaksud dengan 'persaksian ini' adalah fitrah, yakni bila hanya persaksian saja yang dijadikan hujah terhadap kemusyrikan mereka, seandainya memang keadaannya demikian, maka niscaya yang terkena hujah hanyalah orang-orang yang telah mengucapkannya saja.

Dan jika dikatakan bahwa penyampaian Rasulullah Saw. akan ketauhidan Allah sudah cukup untuk dijadikan bukti bagi keberadaan kesaksian ini, maka sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa orang-orang yang mendustakan-Nya dari kalangan kaum musyrik, mendusta­kan pula semua apa yang telah disampaikan oleh para rasul lainnya, baik yang menyangkut hal ini (keesaan Tuhan) ataupun masalah lainnya. Maka hal ini menjadikannya sebagai hujah tersendiri terhadap diri mereka. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa makna yang dimaksud dari 'persaksian ini' adalah fitrah yang telah ditanamkan di dalam jiwa mereka menyangkut masalah ketauhidan Allah. Karena itulah disebutkan didalam firman Nya:

agar kalian tidak mengatakan.

Maksudnya, agar di hari kiamat kelak, kalian tidak mengatakan:

Sesungguhnya kami (bani Adam) terhadap ini.

Yakni terhadap masalah tauhid atau keesaan Allah ini.

adalah orang-orang yang lengah, atau agar kalian tidak mengata­kan, "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan., hingga akhir ayat.

English - Tafsir ibn kathir
The Covenant taken from the Descendants of Adam

Allah tells;

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي ادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

And (remember) when your Lord brought forth from the Children of Adam, from their loins, their seed,

Allah stated that He brought the descendants of Adam out of their fathers' loins, and they testified against themselves that Allah is their Lord and King and that there is no deity worthy of worship except Him. Allah created them on this Fitrah, or way, just as He said,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

So set you (O Muhammad) your face truly towards the religion, Hanifan. Allah's Fitrah with which He has created mankind. No change let there be in Khalqillah. (30:30)

And it is recorded in the Two Sahihs from Abu Hurayrah who said that the Messenger of Allah said,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُولَدُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاء

Every child is born upon the Fitrah, it is only his parents who turn him into a Jew, a Christian or a Zoroastrian. Just as animals are born having full bodies, do you see any of them having a cutoff nose (when they are born).

Muslim recorded that Iyad bin Himar said that the Messenger of Allah said;

يَقُولُ اللهُ إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ فَجَاءَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُم

Allah said, `I created My servants Hunafa (monotheists), but the devils came to them and deviated them from their religion, prohibiting what I allowed.

There are Hadiths that mention that Allah took Adam's offspring from his loins and divided them into those on the right and those on the left.

Imam Ahmad recorded that Anas bin Malik said that the Prophet said,

يُقَالُ لِلرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ مَا عَلَى الاَْرْضِ مِنْ شَيْءٍ أَكُنْتَ مُفْتَدِيًا بِهِ

فَيَقُولُ نَعَمْ

فَيَقُولُ قَدْ أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ ذَلِكَ قَدْ أَخَذْتُ عَلَيْكَ فِي ظَهْرِ ادَمَ أَنْ لَا تُشْرِكَ بِي شَيْيًا فَأَبَيْتَ إِلاَّ أَنْ تُشْرِكَ بِي

It will be said to a man from the people of the Fire on the Day of Resurrection, `If you owned all that is on the earth, would you pay it as ransom!'

He will reply, `Yes.'

Allah will say, `I ordered you with what is less than that, when you were still in Adam's loins, that is, associate none with Me (in worship). You insisted that you associate with Me (in worship).'

This was recorded in the Two Sahihs Commenting on this Ayah (7:172).

At-Tirmidhi recorded that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said,

لَمَّا خَلَقَ اللهُ ادَمَ مَسَحَ ظَهْرَهُ فَسَقَطَ مِنْ ظَهْرِهِ كُلُّ نَسَمَةٍ هُوَ خَالِقُهَا مِنْ ذُرِّيَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَجَعَلَ بَيْنَ عَيْنَي كَلِّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ وَبِيصًا مِنْ نُورٍ ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى ادَمَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ مَنْ هوُلَاءِ

When Allah created Adam, He wiped Adam's back and every person that He will create from him until the Day of Resurrection fell out from his back. Allah placed a glimmering light between the eyes of each one of them. Allah showed them to Adam and Adam asked, `O Lord! Who are they!'

قَالَ هوُلَااءِ ذُرِّيَّتُكَ

Allah said, `These are your offspring.'

فَرَأَىَ رَجُلً مِنْهُمْ فَأَعْجَبَهُ وَبِيصُ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ قَالَ أَيْ رَبِّ مَنْ هَذَا

Adam saw a man from among them whose light he liked. He asked, `O Lord! Who is this man!'

قَالَ هَذَا رَجُلٌ مِنْ اخِرِ الاْاُمَمِ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ يُقَالُ لَهُ دَاوُدُ

Allah said, `This is a man from the latter generations of your offspring. His name is Dawud.'

قَالَ رَبِّ وَكَمْ جَعَلْتَ عُمْرَهُ


Adam said, `O Lord! How many years would he live!'

قَالَ سِتِّينَ سَنَةً

Allah said, `Sixty years.'

قَالَ أَيْ رَبِّ وَقَدْ وَهَبْتُ لَهُ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعِينَ سَنَةً

Adam said, `O Lord! I have forfeited forty years from my life for him.'

فَلَمَّا انْقَضَى عُمْرُ ادَمَ جَاءَهُ مَلَكُ الْمَوْتِ قَالَ أَوَ لَمْ يَبْقَ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعُونَ سَنَةً

When Adam's life came to an end, the angel of death came to him (to take his soul). Adam said, `I still have forty years from my life term, don't I!'

قَالَ أَوَ لَمْ تُعْطِهَا ابْنَكَ دَاوُدَ


He said, `Have you not given it to your son Dawud!'

قَالَ فَجَحَدَ ادَمُ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ وَنَسِيَ ادَمُ فَنِسَيتْ ذُرِّيَّتُهُ وَخَطِىءَ ادَمُ فَخَطِيَتْ ذُرِّيَّتُه

So Adam denied that and his offspring followed suit (denying Allah's covenant), Adam forgot and his offspring forgot, Adam made a mistake and his offspring made mistakes.

At-Tirmidhi said, "This Hadith is Hasan Sahih, and it was reported from various chains of narration through Abu Hurayrah from the Prophet."

Al-Hakim also recorded it in his Mustadrak, and said; "Sahih according to the criteria of Muslim, and they did not record it."

These and similar Hadiths testify that Allah, the Exalted and Most Honored, brought forth Adam's offspring from his loins and separated between the inhabitants of Paradise and those of the Fire.

Allah then said,

وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى

شَهِدْنَا

and made them testify as to themselves (saying):"Am I not your Lord!" They said:"Yes! We testify,"

Therefore, Allah made them testify with themselves by circumstance and words. Testimony is sometimes given in words, such as,
قَالُواْ شَهِدْنَا عَلَى أَنفُسِنَا
(They will say:"We bear witness against ourselves"). (6:130)

At other times, testimony is given by the people themselves, such as Allah's statement,
مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَن يَعْمُرُواْ مَسَاجِدَ الله شَاهِدِينَ عَلَى أَنفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ
(It is not for the Mushrikin, (polytheists) to maintain the mosques of Allah, while they testify against their own selves of disbelief). (9:17)

This Ayah means that their disbelief testifies against them, not that they actually testify against themselves here.

Another Ayah of this type is Allah's statement,
وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ
(And to that he bears witness (by his deeds). (100:7)

The same is the case with asking, sometimes takes the form of words and sometimes a situation or circumstance. For instance, Allah said,
وَاتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ
(And He gave you of all that you asked for). (14:34)

Allah said here,

أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

lest you should say on the Day of Resurrection:

إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا

we were of this (of Tawhid),

غَافِلِينَ

Go to next ayah for complete tafsir

Dapatkan Aplikasi Quran:bit.ly/AlQuranApp

#GreentechApps

Minggu, 24 November 2019

Al-'Adiyat 100:5

Al-'Adiyat 100:5
Topik Yang Terkait Ayat Ini
[Horse] [Middle]

Indonesian - Bahasa
lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,

Indonesian - Tafsir Jalalayn
(Dan menyerbu dalam kepulan debu ke tengah-tengah) artinya dengan membawa kepulan debu (kumpulan musuh) yang diserangnya; maksudnya kuda-kuda tersebut berada di tengah-tengah musuh dalam keadaan menyerang. Lafal Fawasathna yang kedudukannya sebagai Fi'il di'athafkan kepada Isim, karena mengingat bahwa semua Isim yang di'athafkan kepadanya mengandung makna Fi'il pula. Yakni demi yang berlari kencang, lalu mencetuskan api, lalu menerbangkan debu.

Indonesian - Tafsir Kemenag RI
(1-5) Allah bersumpah dengan kuda perang yang memperdengarkan suaranya yang gemuruh. Kuda-kuda yang memancarkan bunga api dari kuku kakinya karena berlari kencang. Kuda-kuda yang menyerang di waktu subuh untuk menyergap musuh di waktu mereka tidak siap siaga. Karena kencangnya lari kuda itu, debu-debu jadi beterbangan. Allah menyatakan bahwa kuda yang menyerang itu tiba-tiba berada di tengah-tengah musuh sehingga menyebabkan mereka panik. Allah bersumpah dengan kuda dan sifat-sifatnya dalam suasana perang bertujuan untuk membangkitkan semangat perjuangan di kalangan orang-orang Mukmin. Sudah selayaknya mereka bersifat demikian dengan membiasakan diri menunggang kuda dengan tangkas untuk menyerbu musuh. Mereka juga diperintahkan agar selalu siap siaga untuk terjun ke medan pertempuran bila genderang perang memanggil mereka untuk menghancurkan musuh yang menyerang, sebagaimana Allah berfirman: Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah dan musuhmu. (al-Anfal/8: 60). Allah bersumpah dengan kuda perang yang dalam keadaan berlari kencang, hilir-mudik, memancarkan percikan bunga api dari kakinya karena berlari kencang, dan dengan penyergapan di waktu subuh, menunjukkan bahwa kuda-kuda yang dipelihara itu bukan untuk kebanggaan. Hendaknya kuda yang dipuji adalah yang digunakan untuk memadamkan keganasan musuh, melumpuhkan kekuatan mereka, atau menghadang serangan mereka. Maksudnya, dalam ketangkasan berkuda terkandung faedah yang tidak terkira banyaknya. Di antaranya adalah dapat dipergunakan untuk mencari nafkah, cepat bergerak untuk suatu keperluan yang mendadak, digunakan untuk menyergap musuh, dan dapat mencapai tempat yang jauh dalam waktu yang singkat.

Indonesian - Tafsir ibn Kathir
Firman Allah Swt.:

dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. (Al-'Adiyat: 5)

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ata, Ikrimah, Qatadah, dan Ad-Dahhak (yang semuanya dari Ibnu Abbas), bahwa makna yang dimaksud ialah kumpulan pasukan musuh yang kafir. Dapat pula ditakwilkan dengan pengertian bahwa kuda-kuda itu berkumpul di tengah-tengah tempat medan pertempuran. Dengan demikian, berarti lafaz jam'ah di-nasab-kan menjadi hal (kata keterangan keadaan) yang menguatkan makna wasata.

Abu Bakar Al-Bazzar sehubungan dengan hal ini telah meriwayatkan sebuah hadis yang garib sekali. Untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdah, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Jami', telah menceritakan kepada kami Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. mengirimkan pasukan berkuda, maka berlalulah masa satu bulan tanpa ada kabar beritanya. Lalu turunlah firman Allah Swt.: Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah. (Al-'Adiyat: 1) Yakni menghentak-hentakkan kakinya dengan cepat dalam larinya. dan kuda yang mencetuskan bunga api dengan pukulan (teracaknya). (Al-'Adiyat: 2) Artinya, teracaknya memercikkan bunga-bunga api karena menginjak bebatuan, seperti halnya batu pemantik api apabila diadukan. dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi. (Al-'Adiyat: 3) Yaitu menyerang musuh di pagi buta dengan serangan yang mengejutkan. maka ia menerbangkan debu. (Al-'Adiyat: 4) Yakni debu beterbangan karena injakan teracak-teracaknya. dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. (Al-'Adiyat: 5) Maksudnya, menyerbu ke tengah-tengah kantong musuh semuanya di waktu pagi buta.

English - Tafsir ibn kathir
And penetrating forthwith as one into the midst.

means, then are all in the middle of that spot, together.

Allah's saying;
فَالْمُغِيرَتِ صُبْحاً
(And scouring to the raid at dawn), Ibn Abbas, Mujahid and Qatadah, all said,

"This means the invasion of the horses in the morning in the way of Allah."

And His statement,
فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعاً
(And raise the dust in clouds the while),

This is the place in which the attack takes place. The dust is stirred up by it.

And His statement,
فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعاً
(And penetrating forthwith as one into the midst), Al-Awfi narrated from Ibn Abbas, Ata, Ikrimah, Qatadah and Ad-Dahhak that they all said,

"This means into the midst of the disbelieving enemy."

Concerning Allah's statement,

إِنَّ الاِْنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

Go to next ayah for complete tafsir

Dapatkan Aplikasi Quran:bit.ly/AlQuranApp

#GreentechApps

Shad 38:70

Shad 38:70
Topik Yang Terkait Ayat Ini
[Warner] [Warning]

Indonesian - Bahasa
Yang diwahyukan kepadaku, bahwa aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata.”

Indonesian - Tafsir Jalalayn
(Tidak) tiada (diwahyukan kepadaku, melainkan bahwa sesungguhnya aku) yakni aku ini (hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata") artinya nyata peringatannya.

Indonesian - Tafsir Kemenag RI
(69-70) Selanjutnya Rasulullah diperintahkan Allah menyatakan kepada orang-orang musyrik Mekah bahwa seandainya Allah tidak menurunkan wahyu kepadanya, tentu ia tidak akan mengetahui para malaikat yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah. Ia juga tidak akan mengetahui pembicaraan yang dilakukan para malaikat, Iblis, dan Adam di hadapan Allah. Malaikat dan Adam tunduk dan patuh kepada Allah, sedang Iblis ingkar dan durhaka kepada-Nya. Pada akhir ayat ini Rasulullah menegaskan lagi tugas yang diberikan Allah, "Aku ini hanyalah seorang rasul yang memberi petunjuk dan peringatan, bukanlah seorang yang dapat memaksa manusia masuk agama Islam."

Indonesian - Tafsir ibn Kathir
Tafsir ayat ini tidak diterangkan secara terpisah pada kitab aslinya.

English - Tafsir ibn kathir
"Only this has been revealed to me, that I am a plain warner.

Dapatkan Aplikasi Quran:bit.ly/AlQuranApp

#GreentechApps

Sabtu, 23 November 2019

Al-Ghasyiyah 88:8

Al-Ghasyiyah 88:8
Topik Yang Terkait Ayat Ini
[Happiness] [Heaven] [Sijjin]

Indonesian - Bahasa
Pada hari itu banyak (pula) wajah yang berseri-seri,

Indonesian - Tafsir Jalalayn
(Banyak muka pada hari itu berseri-seri) atau tampak cerah dan cantik.

Indonesian - Tafsir Kemenag RI
(8-9) Allah menerangkan bahwa di dalam surga, muka orang mukmin berseri penuh kegembiraan. Mereka merasa senang melihat hasil usaha mereka yang mendapat keridaan Allah yang kemudian mendapat imbalan surga yang diidam-idamkan. (10-16) Dalam ayat-ayat berikut ini, Allah menerangkan keadaan surga: 1. Surga tempatnya bernilai tinggi, lebih tinggi dari nilai tempat-tempat yang lain. 2. Di dalamnya tidak terdengar perkataan yang tidak berguna, sebab tempat itu adalah tempat orang-orang yang dikasihi Allah. 3. Di dalamnya terdapat mata air yang mengalirkan air bersih yang menarik pandangan bagi siapa saja yang melihatnya. 4. Di dalamnya terdapat mahligai yang tinggi. 5. Di dekat mereka tersedia gelas-gelas yang berisi minuman yang sudah siap diminum. 6. Di dalamnya terdapat bantal-bantal tersusun yang dapat dipergunakan menurut selera mereka, duduk di atasnya atau dipakai untuk bersandar dan sebagainya. 7. Di sana terdapat pula permadani yang indah dan terhampar pada setiap tempat. 8. Terdapat segala macam kenikmatan rohani dan jasmani yang jauh dari yang dapat kita bayangkan.

Indonesian - Tafsir ibn Kathir

(8-16) Setelah menyebutkan keadaan orang-orang yang celaka, lalu diiringi dengan penyebutan keadaan orang-orang yang berbahagia, untuk itu Allah Swt. berfirman:

Banyak muka pada hari itu. (Al-Ghasyiyah: 8)

Yakni di hari kiamat.

berseri-seri. (Al-Ghasyiyah: 8)

Maksudnya, diketahui kehidupannya yang senang melalui wajah mereka, ian sesungguhnya hal itu diperoleh mereka tiada lain berkat usaha mereka di masa lalu. Sufyan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

merasa senang karena usahanya. (Al-Ghasyiyah: 9)

Yaitu merasa puas dengan amal perbuatannya di masa lalu.

Firman Allah

dalam surga yang tinggi. (Al-Ghasyiyah: 10)

Yakni yang tinggi lagi mewah berada di gedung-gedung yang megah dalam keadaan aman sentosa dan sejahtera.

tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. (Al-Ghasyiyah: 11)

Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam. (Al Waaqi'ah:25-26)

Adapun firman Allah Swt:

Di dalamnya ada mata air yang mengalir. (Al-Ghasyiyah: 12)

Maksudnya, yang mengalir dengan bebas. Ini merupakan ungkapan nakirah dalam konteks isbat, dan makna yang dimaksud bukanlah satu mata air, melainkan ini adalah isim jinis yang artinya di dalam surga-surga itu terdapat banyak mata air yang mengalir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa dibacakan kepada Ar-Rabi' ibnu Sulaiman, bahwa telah menceritakan kepada kami Asad ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Sauban, dari Ata ibnu Qurrah, dari Abdullah ibnu Damrah, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sungai-sungai di surga bersumber dari bawah jurang, atau dari bawah gunung-gunung kesturi.

Firman Allah Swt.:

Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan. (Al-Ghasyiyah: 13)

Yang tinggi lagi empuk, banyak hamparannya dan tebal-tebal, di atasnya terdapat banyak bidadari yang bermata jeli. Para ulama mengatakan bahwa apabila kekasih Allah hendak duduk di atas tahta yang tinggi-tinggi itu, maka tahta-tahta itu merendah untuknya.

dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya). (Al-Ghasyiyah: 14)

Yakni gelas-gelas minum yang disediakan bagi para pemiliknya yang hendak minum dengannya.

dan bantal-bantal sandaran yang tersusun. (Al-Ghasyiyah: 15)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bantal-bantal, hal yang sama dikatakan pula oleh Ikrimah, Qatadah, Ad-Dahhak,. As-Saddi, As-Sauri dan lain-lainnya.

Firman Allah Swt:

dan permadani-permadani yang terhampar. (Al-Ghasyiyah: 16)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah permadani-permadani. Hal yang sama dikatakan oleh Ad-Dahhak dan selainnya yang bukan hanya seorang. Makna mabsusah ialah yang digelar di mana-mana bagi orang yang hendak duduk di mana pun yang dikehendakinya.

Sehubungan dengan hal ini sebaiknya diketengahkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakar ibnu Abu Daud yang mengatakan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Usman, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Muhammad ibnu Muhajir, dari Ad-Dahhak Al-Mu'afiri, dari Sulaiman ibnu Musa, telah menceritakan kepadaku Kuraib, ia pernah mendengar Usamah ibnu Zaid mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ingatlah, adakah orang yang mau berupaya keras meraih surga, karena sesungguhnya surga itu keindahannya tidak tergambarkan. Surga itu, demi Tuhan Yang memillki Ka'bah, merupakan nur yang berkilauan. keharumannya semerbak menggugah hati, gedung-gedungnya kokoh lagi tinggi-tinggi, sungai-sungainya mengalir, buah-buahnya masak-masak, istri-istrinya cantik-cantik lagi jelita, pakaian-pakaiannya banyak berlimpah, tempat tinggal yang abadi di negeri yang sejahtera. dipenuhi dengan buah-buahan dan hijau-hijauan, pakaian-pakaian sutra yang mewah lagi lembut di gedun-gedung yang tinggi lagi megah? Para sahabat berkata, "Benar, wahai Rasulullah, kamilah orang-orang yang berupaya keras untuk meraihnya." Rasulullah Saw. bersabda.”Katakanlah olehmu, 'Insya Allah'.'" Maka mereka mengucapkan, "Insya Allah'

Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini dari Al-Abbas ibnu Usman Ad-Dimasyqi, dari Al-Walid ibnu Muslim ibnu Muhammad ibnu Muhajir dengan sanad yang sama.

English - Tafsir ibn kathir
The Condition of the People of Paradise on the Day of Judgement

After mentioning the situation of the wretched people, Allah changes the discussion to mention those who will be happy. He says,

وُجُوهٌ يَوْمَيِذٍ


Faces that Day.

meaning, on the Day of Judgement.

نَّاعِمَةٌ


will be joyful,

meaning, pleasure will be noticeable in them (those faces). This will only occur due to their striving.

لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ

Go to next ayah for complete tafsir

Dapatkan Aplikasi Quran:bit.ly/AlQuranApp

#GreentechApps

Al-Ma'un 107:3

Al-Ma'un 107:3
Topik Yang Terkait Ayat Ini
[Charity] [Poor] [Recompense, Deniers of Recompense]

Indonesian - Bahasa
dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.

Indonesian - Tafsir Jalalayn
(Dan tidak menganjurkan) dirinya atau orang lain (memberi makan orang miskin) ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang yang bersikap demikian, yaitu Al-'Ash bin Wail atau Walid bin Mughirah.

Indonesian - Tafsir Kemenag RI
(3) Allah menegaskan lebih lanjut sifat pendusta itu, yaitu dia tidak mengajak orang lain untuk membantu dan memberi makan orang miskin. Bila tidak mau mengajak orang memberi makan dan membantu orang miskin berarti ia tidak melakukannya sama sekali. Berdasarkan keterangan di atas, bila seorang tidak sanggup membantu orang-orang miskin maka hendaklah ia menganjurkan orang lain agar melakukan usaha yang mulia itu.

Indonesian - Tafsir ibn Kathir
Lihat tafsir ayat 6

English - Footnote (Hilali)
Narrated Abu Hurairah [radhi-yAllahu 'anhu]: The Prophet (ﷺ) said, "The one who looks after a widow or a needy person is like a Mujahid (fighter) who fights for Allah's Cause, or like him who performs prayers all the night and fasts all the day."

[Sahih Al-Bukhari, 7/5353 (O.P.265)]

English - Tafsir ibn kathir
And urges not the feeding of Al-Miskin.

This is as Allah says,

كَلَّ بَل لاَّ تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ

وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Nay! But you treat not the orphans with kindness and generosity!

And urge not one another on the feeding of Al-Miskin! (89:17-18)

meaning, the poor man who has nothing to sustain him and suffice his needs.

Then Allah says,

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ

Go to next ayah for complete tafsir

Dapatkan Aplikasi Quran:bit.ly/AlQuranApp

#GreentechApps

Kamis, 21 November 2019

Nuh 71:11

Nuh 71:11
Topik Yang Terkait Ayat Ini
[Ark] [Children] [Garden] [Noah] [Wealth]

Indonesian - Bahasa
niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,

Indonesian - Tafsir Jalalayn
(Niscaya Dia akan mengirimkan hujan) pada saat itu mereka sedang mengalami kekeringan karena terlalu lama tidak ada hujan (kepada kalian dengan lebat) dengan deras.

Indonesian - Tafsir Kemenag RI
(11-12) Nabi Nuh menyampaikan kepada kaumnya janji Allah bila mereka beriman kepada-Nya, yaitu: 1. Allah akan menurunkan hujan lebat yang akan menyuburkan tanah mereka dan memberikan hasil yang berlimpah sehingga mereka akan makmur. 2. Allah akan menganugerahkan kepada mereka kekayaan yang berlimpah. 3. Allah akan menganugerahkan anak-anak yang banyak untuk melanjutkan keturunan mereka, sehingga tidak punah. 4. Allah akan menyuburkan kebun-kebun mereka, sehingga memberi hasil yang berlimpah. 5. Allah akan memberi mereka sungai-sungai dan irigasi untuk mengairi kebun-kebun mereka, sehingga subur dan hijau. Janji Allah kepada umat Nuh sangat cocok dengan masyarakat waktu itu. Umat Nabi Nuh adalah nenek moyang umat manusia sekarang. Kebudayaan mereka masih dalam taraf permulaan kebudayaan manusia. Akan tetapi, janji Allah itu tidak menarik hati mereka sedikit pun. Hal ini menunjukkan keingkaran mereka yang sangat hebat. Janji Allah itu mengandung isyarat bahwa Ia menyuruh mereka mempergunakan akal pikiran. Mereka seakan-akan disuruh memikirkan kegunaan hujan bagi mereka. Hujan akan menyuburkan bumi tempat mereka berdiam, menghasilkan tanam-tanaman dan buah-buahan yang mereka perlukan. Sebagian hasil pertanian itu bisa mereka makan dan sebagian lainnya dijual, sehingga menambah kekayaan mereka. Hujan akan mengalirkan air menjadi sungai-sungai yang bermanfaat bagi mereka. Jika mereka mau menggunakan pikiran seperti itu, mereka tentu akan sampai kepada kesimpulan tentang siapa yang menurunkan hujan dan menyuburkan bumi sehingga menghasilkan keperluan-keperluan hidup mereka. Akhirnya, mereka tentu akan sampai kepada suatu kesimpulan sebagaimana seruan yang disampaikan Nuh kepada mereka, yaitu beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan yang menciptakan semua keperluan mereka.

Indonesian - Tafsir ibn Kathir
Adapun firman Allah Swt:

dan menutupkan bajunya (ke mukanya). (Nuh: 7)

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa mereka menyembunyikan jati dirinya agar Nuh tidak mengenal mereka. Sa'id ibnu Jubair dan As-Saddi mengatakan bahwa mereka menutupi kepalanya agar tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Nuh.

dan mereka tetap (mengingkari). (Nuh: 7)

Yakni mereka terus-menerus dalam kemusyrikan dan kekafirannya yang berat lagi sangat parah.

dan menyombongkan diri dengan sangat. (Nuh: 7)

Mereka menolak, tidak mau mengikuti perkara yang hak dan tidak mau tunduk kepadanya.

Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. (Nuh: 8)

Maksudnya, dengan terang-terangan di kalangan mereka tanpa tedeng aling-aling.

kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) secara terbuka. (Nuh: 9)

Yaitu dengan pembicaraan yang jelas dan suara yang keras.

dan dengan diam-diam, (Nuh: 9)

antara aku dan mereka saja. Nuh dalam seruannya memakai cara yang beragam dengan maksud agar seruannya lebih berkesan pada mereka.

maka aku berkata (kepada mereka), "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.” (Nuh: 10)

Yakni kembalilah kamu ke jalan-Nya dan tinggalkanlah apa yang kamu biasa lakukan itu dan bertobatlah kamu kepadanya dari dekat. Karena sesungguhnya barang siapa yang bertobat kepada-Nya, niscaya Dia menerima tobatnya, sekalipun dosa-dosanya besar dalam kekafiran dan kemusyrikannya. Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

maka aku berkata (kepada mereka),' Mohonlah ampunan kepada Tuhan-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.” (Nuh: 10-11)

Maksudnya, terus-menerus; karena itulah maka disunatkan membaca surat ini dalam salat istisqa (memohon hujan) mengingat maknanya sangat relevan dengannya.

Hal yang sama telah dilakukan oleh Amirul Mu’minin Umar ibnul Khattab r.a., bahwa dia menaiki mimbar untuk memanjatkan doa istisqa, maka tiada yang dibacanya selain dari istigfar dan membaca beberapa ayat dalam istigfarnya yang antara lain adalah ayat ini: maka aku berkata (kepada mereka),' 'Mohonlah ampunan kepada Tuhan-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu." (Nuh: 10-11)

Kemudian Umar berkata, "Sesungguhnya aku telah menunggu-nunggu datangnya hujan melalui bintang-bintang yang merupakan pertanda akan datangnya hujan." Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa datanglah awan secara beriringan, sebagian darinya berurutan dengan sebagian yang lainnya.

Dapatkan Aplikasi Quran:bit.ly/AlQuranApp

#GreentechApps

Al-Ma'arij 70:9

Al-Ma'arij 70:9
Topik Yang Terkait Ayat Ini
[Colour] [Day] [Earth] [Judgement] [Wool]

Indonesian - Bahasa
dan gunung-gunung bagaikan bulu (yang beterbangan),

Indonesian - Tafsir Jalalayn
(Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu) maksudnya bagaikan bulu domba ringannya, terbawa terbang oleh angin.

Indonesian - Tafsir Kemenag RI
(8-10) Dalam ayat ini, Allah menerangkan saat-saat kedatangan azab serta keadaan manusia waktu itu. Azab datang kepada orang kafir pada waktu langit hancur luluh, seperti perak yang mencair karena dipanaskan, dan pada saat gunung-gunung hancur bertaburan, seakan-akan bulu-bulu burung yang sedang beterbangan karena hembusan angin. Kebingungan dan penderitaan dihadapi manusia pada waktu itu. Masing-masing tidak dapat menolong orang lain, tidak seorang pun teman akrab yang menanyakan temannya, sedangkan mereka melihat dan mengetahui penderitaan temannya itu.

Indonesian - Tafsir ibn Kathir
Allah Swt. berfirman bahwa azab itu pasti akan menimpa orang-orang kafir.

Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak (Al-Ma'arij: 8)

Ibnu Abbas, Mujahid, Ata, Sa'id ibnu Jubair, Ikrimah, dan As-Saddi serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa langit menjadi seperti minyak yang mendidih.

Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang beterbangan). (Al-Ma'arij: 9)

Yakni seperti bulu yang beterbangan karena tertiup angin kencang. Demikianlah menurut Mujahid, Qatadah, dan As-Saddi. Ayat ini semakna dengan firman Allah Swt. yang menyebutkan:

dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Al-Qari'ah: 5)

Adapun firman Allah Swt.:

Dan tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya, sedangkan mereka saling melihat. (Al-Ma'arij: 10-11)

Maksudnya, tiada seorang pun yang menanyai kerabatnya tentang keadaannya, padahal dia melihatnya dalam keadaan yang paling buruk karena dia sendiri disibukkan dengan keadaan dirinya yang tak kalah buruknya. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, pada mulanya sebagian dari mereka mengenal sebagian yang lainnya, lalu mereka berkenalan di antara sesama mereka, sesudah itu masing-masing menyelamatkan dirinya sendiri. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya:

Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. ('Abasa: 37)

Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman Allah Swt.:

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. (Luqman: 33)

Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu, tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. (Fathir: 18)

Semakna pula dengan firman-Nya:

Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (Al-Mu’minun: 101)

Dan sama dengan firman-Nya:

pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. ('Abasa: 34-37)

Dapatkan Aplikasi Quran:bit.ly/AlQuranApp

#GreentechApps

Rabu, 20 November 2019

Shad 38:15

Shad 38:15
Topik Yang Terkait Ayat Ini
[Blast] [Resurrection Day, A single (shout)]

Indonesian - Bahasa
Dan sebenarnya yang mereka tunggu adalah satu teriakan saja, yang tidak ada selanya.

Indonesian - Tafsir Jalalayn
(Tiadalah yang ditunggu-tunggu) yang dinantikan (oleh mereka) oleh orang-orang kafir Mekah. (melainkan hanya satu teriakan) yaitu tiupan sangkakala untuk kiamat yang saat itu mereka ditimpa oleh azab (yang tidak ada bagi mereka saat berselang) maksudnya, sesudah itu tidak akan ada saat hidup kembali seperti di dunia. Lafal Fawaaqin dapat pula dibaca Fuwaaqin.

Indonesian - Tafsir Kemenag RI
(15) Pada ayat ini, Allah mengancam kaum musyrik Mekah yang tidak mau mengubah keingkarannya kepada Rasul, dengan ancaman berupa teriakan yang amat keras dan cepat, sebagai tanda datangnya hari Kiamat yang membinasakan. Pada saat itu, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengelakkan diri dari kebinasaan yang datang secara tiba-tiba dan tidak berselang sesaat pun.

Indonesian - Tafsir ibn Kathir

Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, makna yang dimaksud ialah tiada masa tangguh bagi mereka melainkan saat (detik-detik) datangnya kiamat menimpa mereka dengan sekonyong-konyong, karena sesungguhnya semua pertandanya telah ada. Dengan kata lain, hari kiamat itu telah dekat masanya. Dan teriakan yang dimaksud adalah tiupan yang mengejutkan, Allah memerintahkan kepada Malaikat Israfil agar memperpanjang tiupan yang pertama ini, sehingga tiada seorang pun dari kalangan penduduk langit dan bumi, melainkan terkejut terkecuali orang-orang yang dikecualikan oleh Allah Swt.

Dapatkan Aplikasi Quran:bit.ly/AlQuranApp

#GreentechApps